jump to navigation

PENCERAHAN DI BALIK PENJARA Juni 5, 2008

Posted by warois in Pencerahan.
trackback

Oleh; Adi Sujatno, Bc.IP., SH., MH *

“Tiap orang adalah manusia dan harus diperlakukan sebagai manusia, meskipun ia telah tersesat, tidak boleh ditunjukkan pada narapidana bahwa ia itu penjahat. Sebaliknya ia harus selalu merasa bahwa dia dipandang dan diperlakukan sebagai manusia” (Dr. Sahardjo, SH).

Selagi ada kejahatan dimuka bumi, dan selama syaitan belum terbelenggu, selama itu pula penjara masih diperlukan. Adanya penjara karena adanya sistem pidana hilang kemerdekaan. Sebelum ada pidana hilang kemerdekaan, belum ada penjara. Siapa yang memasukkan orang kedalam penjara? Mengapa orang dimasukkan didalam penjara?

Menurut Wahyu Yahya 2:10, “Syaitanlah yang memasukkan manusia kedalam penjara”. Karena manusia berbuat kejahatan, kesalahan dan berbuat dosa. Oleh karena itu adalah mimpi bila berpikir suatu negara atau dunia tanpa kejahatan, karena pada dasarnya manusia hidup tiada tanpa kesalahan dan dosa, meskipun Jesus Kristus disalib adalah untuk menebus dosa semua manusia.

Dalam Al Qur’an surat Yusuf 12, kita bisa mengetahui bahwa dalam negara Fir’aun penjara bertebaran dimana-mana sebagai alat pidana. Demikian pula dizaman Isa Almasih penjara-penjara di Palestina juga sangat ditakuti.

Hal ini tidak jauh berbeda sifat angker dan tertutupnya penjara-penjara di Indonesia saat itu, antara lain: penjara Wirogunan, penjara-penjara di P. Nusakambangan, penjara Pekalongan, Semarang, Madiun, Pamekasan, Kalisosok, Sukamiskin dan penjara Cipinang.

Timbul pertanyaan dihati masyarakat Indonesia, yaitu: “Masih adakah penjara di Indonesia?” jawabannya penjara sudah tidak ada dinegara Indonesia, karena di negara Indonesia yang merdeka dan berfalsafahkan Pancasila, sudah tidak memberikan hak hidup kepada penjara dan sistem kepenjaraan. Penjara sudah berubah menjadi “Lembaga Pemasyarakatan”. Prinsip-prinsip tata perlakuan terhadap para pelanggar hukum, terpidana dan narapidana sudah berubah dari prinsip-prinsip kepenjaraan menjadi prinsip-prinsip pemasyarakatan, yang sudah dituangkan pula kedalam suatu sistem yang disebut dengan “Sistem Pemasyarakatan” sejak 27 April 1964.

Setiap kita berada pada bulan April, setidaknya ada 4 (empat) hal yang perlu diingat dan dicatat (direnungkan) bagi kita sebagai warga bangsa, antara lain :

  1. Pada setiap tanggal 9 April, kita mengingat dan mengenang serta memperingati Hari Angkatan Udara Indonesia (AURI), suatu hari Kebangkitan Angkatan Udara Indonesia dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya.
  2. Pada setiap tanggal 21 April, kita mengingat dan mengenang serta memperingati Hari Kartini, suatu hari kebangkitan kaum perempuan Indonesia yang diperjuangkan Ibu R Kartini, untuk persamaan hak memperoleh pendidikan dan harkat kaum wanita dalam segala kehidupan bermasyarakat dan berbangsa.
  3. Pada setiap tanggal 27 April, kita mengingat dan mengenang serta memperingati Hari Bhakti Pemasyarakatan, suatu hari kelahiran SISTEM PEMASYARAKATAN INDONESIA, SIPASINDO (Correctional System of Indonesia), suatu sistem pembinaan narapidana yang berasaskan falsafah Pancasila, falsafah hidupnya bangsa Indonesia.
  4. Bagi semua kita yang dilahirkan pada bulan April, pasti mengenang dan merenungkan kembali keberadaan kita, kemanfaatan hidup, kehidupan dan penghidupan kita di dunia ini, baik bagi sesama, keluarga, lingkungan, dan masyarakat. Terlebih kelahiran kita di dunia ini, dalam keadaan suci, bersih, fitrah sebagaimana sehelai kertas putih yang bersih (teori tabularasa), yang sangat dipengaruhi oleh lingkungan keluarga, lingkungan sosial masyarakat, lingkungan alam sekitar serta lingkungan pendidikan yang kita peroleh dan pembawaan, bakat, karakter dan yang lebih utama adalah valensi (potensi) yang kita miliki masing-masing baik sebagai mahluk individu, maupun mahluk sosial (monodualistis). Bahkan kalau kita mensiitir pendapat dari seorang pakar managemen dunia, DALE CARNEGIE, dalam bukunya “Leaderships in You”, dikatakan bahwa “ada kepemimpinan di dalam setiap diri kita” yang hal ini mendasarkan kepada kitab suci dan alkitab bahwa : “manusia diciptakan Tuhan untuk memimpin alam semesta ini”. Oleh karena setiap kita adalah pemimpin, pada saatnya nanti, kita akan mempertanggungjawabkan dari hasil kepemimpinan kita kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dengan kata lain”Manusia adalah khalifatullah Tuhan di dunia”. Oleh karena itu, dengan berlandaskan kepada falsafah IBDA BINAFSIK, diharapkan setiap kita harus mampu memimpin diri kita terlebih dahulu, sebelum memimpin orang lain, ajaklah diri kita terlebih dahulu sebelum mengajak orang lain. Hal ini lebih dipertegas kembali oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X , yang menyatakan bahwa “setiap kita sesungguhnya memiliki kapasitas untuk menjadi pemimpin ” dan kekuatan terdahsyat dari seorang pemimpin adalah keteladanan dan sifat shiddignya. Dengan demikian, marilah kita berniat dan bersemangat untuk memahami, menghayati serta melaksanakan 4 ajaran nabi dan para Rosul (Suri Tauladan Kepemimpinan Nabi Muhammad, SAW), yaitu :
  •  
    • SIDDIG, atinya : jujur, benar, berintegritas tinggi, dan terjaga dari kesalahan.
    • FATHONAH, artinya : cerdas, cerdas intelektualnya, emosionalnya, spiritualnya dan profesional.
    • AMANAH, artinya : dapat dipercaya, memiliki legitimasi dan akuntabel.
    • TABLIQ, artinya : senantiasa, menyampaikan risalah kebenaran, tidak pernah menyembunyikan apa yang wajib disampaikkan, komunikatif.

(Sumber: http://www.ditjenpas.go.id/index.php?option=com_content&task=view&id=178&Itemid=9)

Komentar»

No comments yet — be the first.